LPM ITB: Cikal Bakal Penunjang E-Learning di Indonesia

Tidak banyak yang tahu mengenai LPM (Layanan dan Produksi Multimedia) ITB. Padahal, unit tersebut merupakan salah satu pendorong lahirnya sistem pembelajaran e-learning di Indonesia. LPM ITB terbentuk pada tahun 2007 karena pada awalnya ada kebutuhan dari ITB untuk membentuk suatu sistem e-learning. Untuk membuat suatu sistem tersebut, diperlukan layanan yang membuat dapat membuat konten e-learning dengan format video. Oleh karena itu, lahirlah suatu unit yang bernama LPM untuk melayani kebutuhan tersebut.

LPM ITB sendiri memiliki beberapa divisi yang memproduksi berbagai macam output, dari video berita, in-house production, video conference, dan training. Video berita meliput berbagai macam kegiatan khususnya kegiatan pendidikan di ITB yang bersifat internasional, namun tidak tertutup untuk kegiatan non-akademis lainnya. Untuk layanan in-house production dapat membuat video, audio, dan multimedia sesuai permintaan dari yang bersangkutan, misalnya video profil SBM, SAPPK, dan fakultas-fakultas lain di ITB. Selain dapat membuat video profil fakultas, layanan in-house production juga membuat video materi mata kuliah tertentu yang dapat diakses di web LPM ITB oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Layanan video conference juga merupakan salah satu layanan unggulan yang sering digunakan untuk menjalankan sistem pembelajaran e-learning di ITB. Sudah banyak dosen-dosen yang menggunakan layanan ini, misalnya dosen dari prodi Elektronika, Seni Rupa, dan Perencanaan Wilayah dan Kota. Video conference dapat digunakan jika dosen yang bersangkutan harus keluar negeri karena ada urusan tertentu namun kuliah tetap harus dilaksanakan. Video conference juga dapat digunakan untuk menerima kuliah dari dosen-dosen dari universitas ternama dari luar negeri yang telah bekerja sama dengan ITB.

Dengan keberadaan LPM ITB, institusi pendidikan lain terpacu untuk mengikuti sistem yang diterapkan oleh ITB. Sekarang sudah hampir semua institusi pendidikan memiliki alat dan fasilitas yang mendukung untuk video conference sehingga seluruh institusi pendidikan di Indonesia dapat bekerja sama. Namun, tidak banyak SDM yang dapat mengoperasikannya, sehingga banyak alat-alat yang ‘dianggurkan’. Berbeda dengan LPM ITB yang sudah lengkap infrastruktur (alat-alat dan fasilitasnya) dan SDM-nya. Sudah banyak yang dihasilkan oleh LPM ITB untuk menunjang sistem e-learning di ITB, namun nampaknya LPM ITB masih kurang bisa berkembang. Hal itu dikarenakan sistem e-learning di Indonesia itu sendiri belum selesai dirampungkan dari bentuk, kurikulum, hingga tata caranya (Pedagogi) oleh Dinas Pendidikan. Menurut Primus (Koordinator LPM ITB), Indonesia tidak bisa langsung menerapkan sistem e-learning yang ada di USA langsung karena tradisi dan budaya Indonesia pun berbeda. Lebih baik jika Indonesia menerapkan sistem blended-learning. Selain itu, dosen-dosen di ITB itu sendiri juga belum dapat memanfaatkannya dengan baik, masih ada yang belum ingin materinya dipublikasikan secara luas karena takut diplagiat dan banyak hal lagi. Namun, pihak rekorat ITB sekarang sudah mulai menganjurkan kepada dosen-dosennya agar dapat memanfaatkan layanan yang disediakan oleh LPM ITB.

Untuk ke depannya, LPM ITB ingin lebih banyak memproduksi konten-konten materi kuliah agar banyak yang dapat dipublikasikan. Kedua, LPM ITB juga akan pro-aktif untuk mengajukan proposal pembuatan konten kuliah ke dosen. Selain itu, LPM ITB juga tidak ingin saling menunggu lagi untuk Pedagogi dari Dinas Pendidikan, namun mencoba-coba berbagai macam cara untuk menemukan sistem e-learning yang cocok (blended-learning) di Indonesia. Walaupun masih sulit, namun LPM ITB akan terus berusaha mengembangkan sistem tersebut. LPM ITB juga akan sering mengadakan pelatihan atau training untuk institusi lain agar mereka dapat menguasai infrastrukturnya.

“Bisakah anda bayangkan jika e-learning di Indonesia berhasil? Biaya pendidikan di Indonesia menjadi sangat murah. Sampai-sampai murid dan mahasiswa di Papua dapat belajar dari institut-institut terkemuka tanpa harus mengeluarkan biaya yang sangat tinggi.” Itulah pernyataan yang dilontarkan oleh Primus ketika ditanya mengenai harapannya saat bekerja di LPM ITB. LPM ITB sudah menjadi salah satu penunjang cikal bakal e-learning di Indonesia. Primus juga berharap agar LPM ITB pun dapat menemukan sistem e-learning yang sesuai di Indonesia agar pendidikan menjadi murah dan semua bisa menjadi pintar. Untuk Indonesia kita bersama.

8 Oktober 2010, SMP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s