Wawancara dan Penulisan Artikel LPM ITB

Halo pembaca setia! Yang saya yakini pembacanya hanyalah kakak-kakak senior dari Kantor Berita ITB 🙂

Saya ingin menuliskan sedikit pengalaman saya saat wawancara dengan LPM ITB bersama Sanur, rekan saya. Proses pertama untuk wawancara yaitu janji waktu dan tempat untuk wawancara. Disini saja saya sudah mengalami kesulitan, karena tidak menemukan jadwal yang cocok dengan narasumber (Primus, Koordinator LPM ITB) karena terbentur dengan jadwal kuliah. Namun akhirnya karena satu dan lain hal, proses wawancara pun dapat dilakukan pada hari Senin, 4 Oktober 2010 pada pukul 16.00 WIB .

Sebelum saya dan Sanur bertemu Primus, kami berdua telah mendiskusikan terlebih dahulu mengenai apa materi yang akan ditanyakan. Sanur sebelumnya telah mengirimkan draft pertanyaan kepada saya melalui email, lalu saya melengkapinya. Untuk melengkapinya saya pun terlebih dahulu mencari dasar-dasar tentang LPM ITB dan saya menemukan websitenya juga artikel yang dibuat oleh Kantor Berita ITB. Nah, tadinya artikel yang akan kami tulis ingin menginformasikan mengenai dasar-dasar dari LPM, namun karena sudah ada, sayapun memutar otak. Akhirnya, saya mengidekan untuk melihat LPM ITB dari sudut pandang lain, yaitu sebagai penunjang e-learning di ITB. Sanur setuju dengan hal itu. Lalu kami langsung menuju ke tempat wawancara.

Wawancara berlangsung selama kurang lebih 40 menit di salah satu studio di ruangan LPM ITB (TVST Lantai 2). Ruangan tersebut ternyata sangat luas dan terdiri dari 2 studio untuk video conference. Menurut saya proses wawancara sudah berlangsung dengan sangat lancar walaupun kami sempat pindah ke studio yang lain karena akan dipakai. Dengan bermodalkan buku catatan dan pena, juga recorder dari telepon genggam, semua hasil wawancara terarsipkan dengan rapi.

Setelah proses wawancara tersebut selesai, maka proses selanjutnya adalah mengolah data tersebut untuk dijadikan artikel. Setelah mendapat teori mengenai berita fitur, awalnya saya merasa sangat mudah teorinya. Namun, pada saat menulis langsung sebuah artikel, semua kesulitan naik ke atas permukaan. Menulis itu susah, itu fakta. Susah sekali rasanya menulis berita fitur yang dapat mengalir ceritanya, yang dapat menarik pembacanya, dan yang mendalami konten beritanya. Kalau tidak percaya, silakan coba sendiri. Hahaha.. Saya merasa dalam menulis berita fitur tersebut, usaha saya kurang maksimal. Namun apa daya, ternyata saya masih harus banyak berlatih lagi. Silakan dinikmati di post saya selanjutnya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s