Pasar Seni ITB 2010: Pasar Psikopat, Bentuk Kritik Sosial di Jalan Seni

BANDUNG, itb.ac.id – Aktivitas yang ada dalam kehidupan sehari-hari terkadang tanpa sadar dalam keberjalanannya sering merusak masyarakat baik secara fisik, mental, maupun otak. Hal inilah yang mendasari salah satu dosen dari FSRD ITB, Yasraf Amir Piliang untuk menyampaikan kritik sosial dalam karya-karyanya ‘Pasar Psikopat’ dalam Jalan Seni di Pasar Seni ITB (10/10/10) dengan tujuan untuk menyadarkan masyarakat akan hal tersebut.

Susu yang mengandung melanin, bakso yang mengandung borat, tahu yang mengandung formalin, ayam yang sudah lama mati, jual beli bayi, hingga ekspor impor organ tubuh manusia. Hal tersebut merupakan realitas yang sedang terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Dengan mengambil fakta-fakta tersebut, beliau membuat karya-karya yang cukup mengundang perhatian pengunjung. Karya-karya yang merupakan representasi yang sedang terjadi saat ini. Dengan hanya bermodalkan gerobak dorong untuk gas elpiji dan spanduk-spanduk yang mengiklankan produk-produk tersebut, banyak orang yang tercengang akan fakta-faktanya. Setiap karyanya memiliki social statement, misalnya saja roda di gerobak dorong menjadi simbol dari kapitalis.

Saat ditanyakan, apakah beliau tidak takut untuk mengungkap hal-hal yang sangat sensitif ini, beliau mengatakan, “Ya mau bagaimana lagi? Rasa takut pasti ada. Namun saya rasa hal ini sangat perlu disampaikan kepada masyarakat.” Lalu dengan mantap beliau mempersembahkan karya-karyanya ini untuk dilihat masyarakat secara terbuka.

Pengalaman beliau selama sembilan kali mengikuti Pasar Seni ITB, beliau menyebutkan bahwa Pasar Seni yang sekarang sangatlah ‘fresh’ karena diberikan kebebasan untuk mengekspresikan karyanya. Di lain hal, Pasar Seni yang sekarang diperkuat oleh wacana seni yang mengilmiahkan seni. “Jadi seni juga bukan hanya bisa dipakai untuk mensosialisasikan gagasan pemikiran, namun juga untuk konkritisasi keabstrakan.”

Beliau juga menghadirkan parodi dunia pendidikan saat ini. Dimana sekarang sedang marak dijual ijazah-ijazah palsu dengan biaya 1,5 hingga 250 juta rupiah untuk tugas akhir, tesis, dan disertasi. Fakta tersebut dan tujuan konkritisasi dari keabstrakan, membuat beliau terang-terangan menghadirkan toko yang menjual ijazah S1, S2, dan S3 dengan biaya hanya Rp 50.000,00 saja. Bukan untung yang dicari beliau, melainkan konkritisasi.

Dari acara ini beliau berharap masyarakat bukan hanya tersadarkan atas karya-karyanya, namun juga bisa merubah gaya hidup masyarakat agar lebih baik lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s