Average Dream

Tujuan hidup.

Mungkin tujuan hidup kali ini, bukan tentang mimpi besar, bukan tentang membuat kota yang bisa ditinggali warganya menjadi lebih nyaman, tidak ada hubungannya dengan perubahan iklim, definitely bukan tentang mimpi karir.

Tujuan hidup ini, lebih simpel. Bisa dibilang mimpi semua wanita yang ada di seluruh dunia. Lebay. Tapi bener. Entah mengapa, I want to write about this. Harus banget ditulis, supaya saya gak lupa, supaya bisa terus berusaha mewujudkan mimpi saya yang satu ini.

Saya, perempuan berumur 21 tahun, sedang menjalani program magister di salah satu perguruan tinggi. Topik hot saat ini yang sedang dibicarakan di geng adalah: pernikahan.

Ya semua orang pasti mau menikahlah ya itu sudah pasti. Kalau ngomongin jodoh, inimah bisa sangaaat panjang. Bisa jadi beberapa artikel sediri. Tapi yang pasti setiap orang memiliki jodohnya, namun belum tentu ketemu di dunia ini, bisa jadi ketemunya di akhirat 🙂 semoga saya salah satu yang bertemu jodoh saya di dunia. Aamiin.

Anw, beberapa waktu lalu banyak pelajaran hidup yang saya dapat, makin saya pikirkan karena semakin beranjak dewasa. The big question is, saat lo punya keluarga nanti, mau kaya gimana sih keluarga lo?

Saya banyak berkaca dari keluarga saya sendiri. Well, this is my dream about growing a family.

Saya, ingin bekerja. Saya ingin menjadi yang berguna buat negara (cie). Tapi saya ingin menjadi wanita yang selalu memprioritaskan keluarganya, nanti. Ibaratnya film di One Fine Day, nothing beats their child. Their children is the most important thing in the world. I know, I can do both. Being a mom and being a career woman. Tapi, ya semua itu tergantung laki-lakinya sih, bolehin kerja atau ngga. Kalau future husband forbid me to work, insyaAllah akan nurut.

Suami, itu imam. Kadang, saya suka sedih ngeliat keluarga yang ibu nya itu dominan, nggak menghormati suaminya, yaa kasarnya yang suami suami takut istri. Saya ingin, saya yang takut sama suami saya (nanti). Seperti, yang seharusnya. Harus patuh, harus sopan, harus apa apa izin. Like my mom always did. Sekesel-keselnya sama bapak, ibu cuma senyum dan bilang, ngga apa-apa. Pokoknya pengen jadi kaya ibu yang selalu bisa mendukung bapak mau lagi susah mau lagi seneng. Kaya hal-hal sederhana, kalau bapak nyetir, ibu selalu nemenin bangun di sebelahnya (ok not always actually, but…) hahaha. Eventhough, saya juga sadar saya juga tipe yang dominan, okay, I need to learn to fix my self.

20121116-220718.jpg

Saya ingin, hmm, gimana ya ini bilangnya. Nantinya, kalau punya pembantu dan supir. Ingin anak-anak saya menganggap bahwa mereka itu sama. Sama seperti yang bapak ibu ngajarin saya. Memperlakukan orang itu harus sama, dari tukang parkir, janitor, pegawai tata usaha, satpam, etc. Orang tua saya mengajak pembantu rumah tangga dan supir untuk makan bareng di resto. Saya ingin menjadi orang tua yang seperti itu.

20121116-220753.jpg

The next thing, pernikahan itu, menggabungkan dua keluarga besar. Kejadian di sinetron, yang istri berantem sama mertua, atau besanan ga akur. Naudzubillah. Saya gak mau itu sampe kejadian. Saya ingin, akur sama mertua nantinya, sampe kaya nini saya (ibunya bapak) bersyukur banget dapet menantu kaya ibu saya. Saya ingin, nanti orang tua saya bisa akur sama orang tua suami. Sampe akurnya bisa teleponan dan kirim-kiriman makanan, like my oma and my nini always did.

20121116-220801.jpg

Intinya, semoga kehidupan saya nanti bisa seperti bapak ibu saya, yang sejauh ini, lebih dari sempurna dengan semua keluarga yang akur-akur 🙂 alhamdulillah ya Allah..

One thought on “Average Dream

  1. Kebahagiaan suatu keluarga ditentukan oleh satu ideologi (sepaham) dan juga keegoan masing-masing. Bisa aja salah satu ga terpenuhi atau bahkan dua2nya tidak terpenuhi. Kata orang sunda awet rajet (awet tapi pecah). Permasalahan di dalam rumah tangga banyak sekali, dan sering kali pemicu pertama ribut yaitu ada keluarga dari pihak istri atau suami (misal adik atau kakak) yang terbawa ke dalam rumah tangga kita bahkan menyangkut uang. Disinilah peran satu hati (seidiologi) dan keegoan membawa keawetan dalam rumah tangga.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s