Even the waiting is painful

Setahun yang lalu 30 April 2016 kita resmi jadi suami istri. Habis honeymoon, Mei-Juni 2016 kita kepisah karena aku masih kerja di Jakarta, kamu kerja di Bandung. Juli-September 2016, alhamdulillah aku bisa nemenin kamu di Bandung, masakin kamu bekel walaupun gak tiap hari, baru tau kalau kemiri juga ga bisa beli cuma 4 butir kalau di pasar (yhaa baru masuk dapur setelah nikah, hahahaha). Plan A-Z kita untuk sama-sama studi di UK, tidak ada yang terealisasikan karena kamu tiba-tiba ditugaskan untuk kerja selama 1-2 tahun di Sacheon, Korea Selatan. Jadilah kita kepisah lagi dari September-November 2016. Alhamdulillah aku bisa ikut tinggal bareng kamu (lhumayan yha bisa sempet ngerasain jadi istri expat kerjanya masak jualan sama nonton korea hahaha) dari November 2016 sampai Januari 2017. 

Momen paling tentram seumur hidupku tinggal di kota kecil desa beneran gak ada apa-apa, plus tantangan baru juga krn tinggal berdua doang jauh dari keluarga dan semuanya harus sendiri, hal kecil terkait bentuk dan tingkat kematanyan ceplok telor saja bisa jadi perkara.
Marrying you, shifting my priorities. Aku jadi ga sepengen itu untuk kuliah lagi. Rasanya hati lebih tenang dengan nemenin kamu aja. Aku ga nyangka kalau aku akan enjoy banget jadi ibu rumah tangga, belajar masak dll, aku kira bakal ga betah.

Akhirnya berkat dukungan (dan sedikit pemaksaan) dari kamu aku jadi kuliah lagi. Februari 2017 aku sempat pulang ke Indonesia untuk mengurus visa studi di UK. Setelah beres, Februari-Maret 2017 aku nyusul kamu lagi ke Korea. Sampai akhirnya akhir Maret 2017 aku harus berangkat ke London untuk menempuh studi hingga 4 tahun đź’”

Ehhhh h-4 sebelum aku ke London, pas lagi packing di Indonesia, aku baru tau kalau aku hamil…….. jalan dari Allah, gak ada yang tahu ya. Walaupun kamu ga ada deket aku, tapi Allah kasih titipan buat kita, yang bisa jagain aku selalu ingetin aku makan (karena aku selalu males makan) dan hidup sehat, selalu menghibur aku biar ga sedih-sedih walaupun kangen. Jadi ada yang gantiin rewelnya kamu nih
Gak nyangka sih kalau dari 1 tahun nikah, 6.5 bulan bareng, 5.5 bulan kepisah. Banyak kepisahnya. Gak nyangka juga (ternyata sampai sekarang) kita bisa melaluinya
Harus percaya, harus ikhlas kalau ini memang sudah digariskan untuk kita, kalau ini merupakan yang terbaik untuk kita. Allah kasih kita jalan dan cobaan kaya gini, artinya kita pasti bisa kuat melewatinya. It’s only for those who know good things worth to wait, even the waiting is painful.

Semoga ultah, anniversary, dan lebaran (yang tahun ini semuanya kita lewati terpisah), bisa kita lalui bersama di tahun depan ya.

To the 8 hours difference we’ll have to face. To the 11 hours flights we’ll have to take. Saranghae đź’•

2 thoughts on “Even the waiting is painful

  1. Mba michiko,
    Pertama, congrats untuk studi dan kehamilannya. Kedua, your name is so beautiful.
    Aku juga akan brgkt phd by august ini, tp aku ke Aberdeen. Baru menikah juga Des 2016 lalu.
    Aku berdoa semoga mba senantiasa dikuatkan dan disehatkan. Ditunggu ya mba cerita tt phd dan kehamilannya!

    Like

    1. Terima kasih! Cerita kehamilan yang sudah sempat saya tulis ada di bagian Motherhood hehe, semoga bermanfaat jika nanti juga mengalami pengalaman yang serupa.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s