Pengalaman: Kontrol Kandungan Kehamilan Pertama

Artikel ini sengaja saya pisah dengan Pengalaman: Hamil dan Melahirkan di Inggris karena saya ingin membuat jurnal sendiri setiap kontrol kandungan atau antenatal appointment yang saya hadiri.

Jumlah dari antenatal appointment yang diberikan gratis oleh NHS selama kehamilan yaitu 6 pertemuan untuk kontrol kandungan biasa dengan midwife atau general practicioner (atau 9 pertemuan jika anak pertama), dan 2 pertemuan untuk ultrasound scan (saat usia kandungan antara 8-14 minggu dan 18-22 minggu). Bayangkan, hanya bisa melihat bayi 2 kali selama 9 bulan, sedih, sedangkan di Indonesia setiap kontrol bisa dapat foto USG. Hanya bisa disyukuri saja, apalagi semuanya gratis.

Pada setiap kontrol dengan midwife atau general practicioner calon ibu diwajibkan untuk selalu tes urin untuk dicek kadar proteinnya. Sedangkan setiap seluruh kunjungan dalam proses kehamilan (baik itu kontrol kandungan, cek darah, ultrasound scan, dan lain sebagainya) diwajibkan untuk selalu membawa Antenatal/Labour Casenotes (buku jurnal kehamilan).

Selain di Inggris, saya juga sempat kontrol kandungan saat pulang ke Indonesia dan saat mengunjungi suami di Korea Selatan. Berikut merupakan jurnal kehamilan saya dari catatan kontrol kandungan di Rumah Sakit Premier Bintaro (Indonesia), Rumah Sakit Ibu & Anak Asih (Indonesia), Mirae Woman Hospital (Korea Selatan), The Whittington Hospital (Inggris) dan terakhir Chelsea and Westminster Hospital (Inggris) selama saya hamil anak pertama.

Jurnal Kehamilan

Cerita pertama kali tahu hamil, sebenarnya hanya iseng waktu itu. Jadi pada 22 Maret 2017, saya ada jadwal treatment laser di ZAP Bintaro Jaya XChange (tidak boleh untuk yang sedang hamil), siapa tahu hamil jadi saat sudah parkir saya inisiatif dan didasari rasa iseng penasaran, beli test pack di Watsons atau Guardian, lupa, cek di toilet umum di Bintaro Jaya XChange, eh tiba-tiba hasilnya kok muncul dua garis, positif! Hahaha, alhamdulillah. Batal deh perawatan di ZAP, akhirnya saya menuju tempat parkir kembali, mengabari suami di mobil (foto hasil test pack, kirim lewat line). Dia pun terkaget-kaget…… Hahaha, akhirnya untuk mengetahui secara pasti, saya pun langsung ke rumah sakit pada hari itu juga. Sedikit panik, karena 27 Maret 2017 saya sudah harus terbang ke London untuk memulai studi tingkat doktoral.

Kontrol Kandungan (Rumah Sakit Premier Bintaro, 22 Maret 2017)
Rumah sakit terdekat saat itu adalah Rumah Sakit Premier Bintaro. Saat di resepsionis, cuma minta dokter dengan jadwal tercepat, dapatlah Dr. dr. Okky Oktavandhi SPOG. Menunggunya cukup lama ternyata, hampir 2 jam. Akhirnya saat bertemu, beliau mengatakan kalau tidak terlihat saat di USG mungkin harus “cek dalam”, dan alhamdulillah dengan USG saja terlihat bahwa benar memang sudah ada penebalan rahim dan ada kantung janinnya. Dari perhitungan kalender, saya sudah hamil 5 minggu. Gemas! Kata dokternya, untuk lebih pastinya, harus di USG lagi (2-3 minggu lagi, saat usia kehamilan 8 minggu), karena ada beberapa kasus kantung janinnya kosong (hamil kosong, atau janin tidak berkembang), bismillah semoga sehat. Saya juga panik, karena 27 Maret 2017 saya harus melakukan penerbangan jauh, mana masih hamil muda, akhirnya dokter memberikan obat penguat janin, kuat ya kamu, Nak.

8-12 Weeks: Booking Appointment by Midwife (The Whittington Hospital, 3 May 2017)
Pada kontrol kandungan pertama (di Inggris) ini, saya ditimbang tinggi dan berat badannya untuk dihitung Body Mass Index. Lalu bidan hanya akan cek tekanan darah dan cek kadar protein dari sampel urin saja. Hasilnya, tekanan darah saya cukup rendah namun kadar proteinnya normal. Selain itu, bidan menanyakan data riwayat kesehatan pribadi dan keluarga serta berbagai data penting lainnya untuk membantu mendeteksi potensi bahaya dari negara asal sejak dini, serta untuk merencanakan pelayanan terbaik untuk calon ibu dan bayi di dalam kandungan. Dalam setiap pelayanan, calon ibu diberikan kebebasan untuk memilih, misalnya saat bidan menawarkan screening test untuk calon ibu dan bayi, saya waktu itu setuju dengan semua tes yang perlu dilakukan, beberapa calon ibu memilih tidak melakukan beberapa tes tertentu. Maka dari itu saat hari itu juga saya juga langsung tes darah agar hasilnya bisa dibahas di kontrol kandungan selanjutnya. Calon ibu juga diberi kebebasan untuk memilih opsi melahirkan normal atau tidak, opsi bantuan dokter perempuan atau laki-laki, serta opsi vaksinasi. Terakhir, bidan menjelaskan timeline selama 9 bulan ke depan yang memuat jadwal kontrol kandungan, tes darah, ultrasound scan, dan beberapa agenda penting lainnya.

Kontrol Kandungan (Rumah Sakit Ibu & Anak Asih, 12 Mei 2017)
Sebenarnya, dari terakhir tahu hamil ada penebalan rahim dan kantung janin, belum dicek lagi, apakah benar janinnya berkembang atau tidak. Waktu itu sudah terlanjur ke Inggris, dan di Inggris jadwal kontrol kandungan terbatas, sudah ditentukan, dan tidak di USG pada setiap pertemuan, tidak seperti di Indonesia. Kebetulan ada kondisi darurat yang mengharuskan saya pulang ke Indonesia, suami pun juga pulang ke Indonesia dari Korea Selatan, karena mama mertua saya meninggal dunia pada 6 Mei 2017. Stres dan sedih bukan main, baiknya tidak diceritakan di sini. Anyway, kami yang tadinya tidak ada jadwal bertemu, alhamdulillah jadi sempat bertemu dan menyempatkan diri untuk kontrol kandungan di Indonesia. Finally, bisa kontrol kandungan ditemani oleh suami, bahagia sekali rasanya, serius, untuk para pejuang long distance marriage pasti paham. Kami putuskan untuk cek kandungan di Rumah Sakit Ibu & Anak Asih. Tidak ada alasan tertentu, hanya saja ibu dan tante saya saat melahirkan adik dan sepupu-sepupu saya di rumah sakit tersebut. Kebetulan rumah suami juga di dekat sana, jadi sekalian saja. Saat itu, di USG oleh dokternya dan lucu sekali, bayi kami sedang aktif, tiba-tiba kakinya sudah bisa menendang kesana kemari. Kami pun mendengarkan detak jantungnya untuk pertama kali, kami tidak sampai menangis seperti yang lain saat pertama kali dengar detak jantung bayi, tapi cukup terharu. Lebih terharu lihat dia yang aktif dan sudah bisa menendang, gemas. Saat itu juga kebetulan terlihat alat kelaminnya, and it’s a boy! Katanya masih bisa berubah, tetapi sepertinya kalau sudah terlihat laki-laki, it’s a set ya, hahaha.. Karena saya akan melakukan penerbangan jauh, kembali lagi ke Inggris, saya disuntik obat penguat janin. We decided to call him, uri egi, means “our baby” in korean language.

8-14 Weeks: Dating Scan (The Whittington Hospital, 15 May 2017)
Kontrol kandungan kali ini adalah pengalaman ultrasound scan atau USG pertama saya di Inggris. Hasilnya adalah estimasi perkiraan bayi lahir ternyata maju (dari 22 November 2017 ke 15 November 2017) yang dilihat dari pertumbuhan fisik bayi (physical development). Dalam kontrol kandungan ini, juga dilihat kemungkinan abnormalitas dari janin (termasuk Down’s Syndrome, ini tidak wajib, bisa memilih untuk tidak dicek). Saat di-scan, saya tidak diinformasikan gender dari si janin (saya juga tidak bertanya), tapi beberapa rumah sakit ada yang memang memiliki kebijakan untuk tidak menginformasikan gender dari si janin, untuk menghindari kekecewaan. Hasil ultrasound scan dicetak oleh sonografer (tanpa saya minta) dan bisa saya bawa pulang tanpa ada biaya tambahan, namun sepertinya di beberapa rumah sakit ada yang harus bayar untuk mencetak hasilnya (dari yang saya baca biayanya sekitar £3).

Glucose Tolerance Test Part 1 (The Whittington Hospital, 2 June 2017)
Ambil darah untuk pemeriksaan kadar glukosa, harus puasa dari malam harinya (hanya boleh minum air mineral). Prosesnya cepat, hanya 1 kali ambil darah dan bisa langsung pulang.

16 Weeks: General Appointment by Midwife (The Whittington Hospital, 13 June 2017)
Pada kontrol kandungan kali ini, bidan cek tekanan darah dan cek kadar protein dari sampel urin, serta cek detak jantung bayi. Alhamdulillah, semuanya normal. Kalau di Indonesia, cek detak jantung dari ultrasound scan atau USG, sedangkan kalau di Inggris dengan bidan, hanya cek dari suaranya. Jadi prosesnya mirip dengan USG, saya harus berbaring dan perut diberi gel dingin, lalu alat scan tidak disambungkan ke layar, tetapi disambungkan ke alat kecil dengan bentuk seperti walkie talkie, yang mengeluarkan suara detak jantung bayi, cukup terdengar kencang suaranya, seperti telepon genggam yang di-loudspeaker. Bidan menginformasikan beberapa nomor telepon yang bisa dihubungi jika terjadi sesuatu calon ibu dan janin. Pada pertemuan ini, saya menceritakan keluhan saya yang suka mengalami backpain hingga sulit berdiri, duduk, dan berjalan. Bidan saya sangat helpful dan solutif, dia memberikan akses ke acupuncture service dari rumah sakit, gratis. Bidan juga menginformasikan hasil dari screening tests melalui cek darah yang sudah saya lakukan pada pertemuan pertama. Alhamdulillah dari semua tes yang dilakukan, hasilnya normal, kecuali untuk Vitamin D saya termasuk sangat rendah, kadar Vitamin D saya hanya 26, seharusnya berada di rentang 50-250. Akhirnya saya diberi preskripsi/resep untuk Vitamin D dengan dosis tinggi. Semuanya elektronik dan gratis, sehabis selesai kontrol, tinggal menuju Outpatient Pharmacy Unit, ambil nomor antrian, tunggu 10 menit, dan ambil resepnya.

General Appointment by General Practicioner (Regents Park Practice, 30 June 2017)
Berhubung saya akan melakukan perjalanan jarak jauh pertengahan Juli nanti, dari pertemuan terakhir tanggal 13 Juni, bidan menyarankan untuk membuat janji temu dengan GP sebelum jadwal penerbangan. Pertemuan kali ini tidak terlalu berkesan, untuk kontrol kandungan di GP. Dokternya hanya cek tensi, menanyakan kondisi dan keadaan saya apakah ada yang kurang enak, hanya seperti wawancara saja, hingga terakhir bahkan dia tidak mencoba mendengarkan detak jantung saya ataupun si bayi, dan tidak memegang perut saya sama sekali. Untuk cek menyeluruh, harus dilakukan 1-2 hari sebelum keberangkatan. Akhirnya dibuatkan kembali janji temu dengan GP sebelum saya bepergian.

18-22 Weeks: Anomaly Scan (The Whittington Hospital, 5 July 2017)
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu datang juga, sudah lama tidak bertemu adik bayi di dalam perut. Secara di Inggris dapat kesempatan ultrasound scan hanya 2 kali (jika tidak ada masalah dan kelainan pada bayi), jadi ini merupakan scan terakhir di Inggris, semoga. Jika ultrasound scan pertama kemarin dilakukan di Antenatal Ward, kali ini dilakukan di Imaging Department. Sepertinya dari alat-alat tidak ada bedanya, tapi kali ini ultrasound scan dilakukan oleh sonografer yang menurut saya sangat teliti. Semua aspek dia perhatikan, perut saya goyang sedikit ditegur, hahaha.. Terakhir scan itu saat kandungan berusia 3 bulan, sudah lama tidak lihat, ternyata dia sudah tumbuh menjadi sangat besar, sampai kaget, kepala dan badan mulai proporsional, perutnya terlihat buncit dan gendut, hehe. Lucu sekali, saat awal mula di-scan tangan si bayi sedang tidak mengepal, kelima jarinya terlihat seperti dadah dadah say hello,super gemas. Tidak lama, di tengah proses scan, bayinya cegukan, semua anggota tubuhnya bergetar, lucu sekali, baru tahu ternyata di dalam perut juga bisa cegukan. Alhamdulillah, menurut sonografer, semua normal dan sesuai grafik pertumbuhan janin. Hasil ultrasound scan dicetak oleh sonografer sesuai permintaan, kalau kemarin gratis, sekarang ternyata di Imaging Department ada biaya yaitu £5 dan hanya dapat 1 foto, demi koleksi foto adik bayi, rela deh mengeluarkan £5 hanya untuk 1 lembar foto, hehe.

General Appointment by General Practicioner (Regents Park Practice, 13 July 2017)
Seharusnya saya cek keseluruhan untuk terbang (flight fit test), untuk buat surat pengantar terbang saat hamil dari dokter, tetapi saya tidak menghadirinya. Sebagai informasi untuk membuat surat pengantar di GP Regents Park Practice ini dikenakan biaya sebesar £20. Pada akhirnya saya memutuskan untuk tidak hadir dan tidak buat surat pengantar (jangan dicontoh, ternyata benar diminta saat check-in di Heathrow Airport).

25 Weeks: General Appointment by General Practicioner (Regents Park Practice, 9 August 2017)
Saya tidak bisa menghadiri pertemuan ini karena kebetulan sedang berada di Korea Selatan untuk mengunjungi suami saya yang bekerja di sana. Bidan mewajibkan saya untuk melakukan kontrol kandungan di Korea Selatan.

Kontrol Kandungan (Mirae Woman Hospital, 5 August 2017)
Kontrol kandungan di Korea Selatan! Kalau baca cerita-cerita ibu hamil di Jakarta yang sibuk cari dokter kandungan dengan berbagai kriteria (mulai dari yang pro normal, bisa di whatsapp, bisa diganggu di luar waktu kontrol, dan lain-lain). Kalau saya dan suami, sama siapa saja (dokter boleh, bidan boleh), di mana saja, kalau bisa yang paling cepat jadwalnya, yang penting saat dicek bayi sehat. Di Korea Selatan, kami tinggal di kota kecil, Sacheon, di sana tidak ada dokter kandungan ataupun bidan. Maka untuk cek kandungan, kami harus pergi ke Jinju (kota dekat Sacheon, cuma 20 menit dengan mobil jaraknya), yang memiliki rumah sakit ibu dan anak, bisa kontrol kandungan di sana, namanya Mirae Woman Hospital. Di sana, cukup menantang, karena bukan kota besar, tidak ada yang paham bahasa inggris, kami pun tidak menguasai bahasa korea, akhirnya pakai bahasa tarzan! Di resepsionis setelah berhasil berkomunikasi pakai bahasa tarzan, berhasil dapat nomor antrian. Menunggu sesuai antrian, untuk dicek oleh suster (tensi, tinggi badan, berat badan). Saat pertemuan dengan suster tersebut, juga ditanyakan sudah berapa minggu, ada keluhan atau tidak, melahirkan dimana, dan lain sebagainya. Setelah itu kami diminta menunggu kembali. Setelah cukup lama menunggu, sekitar 1-2 jam, akhirnya, kami dipanggil untuk bertemu dokter kandungan, yang alhamdulillah bisa sedikit berbahasa inggris. Saat di USG, alhamdulillah posisi bayi normal dan sehat, dokternya juga, walaupun bahasa inggrisnya terbatas, mencoba menjelaskan bagian-bagian tubuh bayi saat sedang di-scan. Kami tidak begitu paham, yang penting saat kami tanya, baby healthy? Dokternya menjawab, yes. Cukup itu saja, tidak bisa cerewet bertanya macam-macam seperti kontrol di Indonesia. Terakhir, kami minta surat pengantar dari dokter untuk terbang kembali.

Kontrol Kandungan (Rumah Sakit Ibu & Anak Asih, 25 Agustus 2017)
Saya harus berada di Jakarta untuk menghadiri pernikahan adik saya, oleh karena itu, saya menyempatkan diri untuk kontrol kandungan di Rumah Sakit Ibu & Anak Asih karena sekalian mampir ke rumah mertua, sendirian saja karena ibu masih bekerja, suami di Korea Selatan. Saat kontrol kandungan, alhamdulillah terlihat di USG bayi sehat dan normal, namun posisinya sungsang! Pantatnya di bawah, kepalanya di atas. Alhasil, saya yang ingin menjalani proses melahirkan secara normal ini cukup panik dibuatnya. Dokter menyarankan untuk sering-sering melakukan gerakan sujud (10 menit tiap sujud, 5 kali sehari). Pulang-pulang, cukup sedih karena sungsang. Semoga uri egi bisa jungkir balik lagi ke posisi yang normal ya..

Kontrol Kandungan (Rumah Sakit Premier Bintaro, 7 September 2017)
Kontrol kandungan kehamilan pertama yang terakhir di Jakarta, pilih jadwal yang agak malam agar bisa ditemani oleh ibu saya. Tujuannya untuk meminta surat pengantar dari dokter karena akan terbang kembali ke Inggris. Setelah dicek tensi, berat dan tinggi badan oleh suster, akhirnya kami bisa bertemu dokter sesuai nomor antrian. Saat di USG, bayi sudah berubah posisi menjadi…. melintang. Hahahaha. Lumayan lah, tidak sungsang. Tapi kata dokternya, kalau sungsang (kaki di bawah), masih ada kemungkinan normal, tetapi kalau melintang harus dioperasi, oh no. Dokter mengajarkan saya cara mengetahui posisi bayi dengan meraba dan menekan saat berbaring. Katanya, perut saya termasuk yang cukup tebal sehingga sulit mengetahui posisi bayi jika memang tidak ditekan dengan benar. Selain itu dokter juga mengajarkan saya cara sujud yang benar agar bayi bisa berubah posisinya. Surat pengantar sudah dibuat, semoga uri egi bisa kembali ke posisi yang benar ya..

Glucose Tolerance Test Part 2 (The Whittington Hospital, 11 September 2017)
Ini tes darah paling lama (dan banyak) yang pernah saya alami. Total 3 kali ambil darah selama 2-3 jam. Untuk melakukan tes ini, harus puasa dari malam sebelumnya (hanya boleh minum air mineral). Pagi hari merupakan jadwal tes yang ideal, saya sendiri dapat jadwal pukul 11.00 AM. Prosesnya detailnya, pukul 11.00 AM diambil darah di tangan kiri 1 kali, lalu akan diberikan minuman glukosa (cukup enak, rasanya seperti sirup jeruk) untuk dihabiskan dalam waktu 10 menit (tidak boleh langsung habis), kira-kira pukul 11.10 AM. Lalu setelah selesai minum, akan diberi jadwal dengan selang 2 jam, yaitu 12.10 PM dan 01.10 PM untuk diambil lagi darahnya 2 kali lagi, lalu setelah itu boleh pulang dan makan. Cukup bosan menunggunya, apalagi di saat baterai telepon genggam tiris. Untuk hasilnya, pada 12 September 2017, dikontak oleh The Whittington Hospital, katanya dari hasil tes darah, kadar ion saya sangat rendah, akhirnya pada hari itu juga saya diminta datang ke The Whittington Hospital untuk mengambil suplemen ion.

28 Weeks: General Appointment by Midwife (The Whittington Hospital, 15 September 2017)
Kontrol kandungan setelah saya melakukan perjalanan jauh dan kembali ke Inggris (dari Indonesia dan Korea Selatan). Agak panik, karena terakhir saat kontrol di Indonesia itu posisi bayi jadi melintang. Bidan pada kontrol kandungan kali ini perhatian sekali. Seperti biasa, tiap kontrol kandungan di Inggris itu selalu dicek urine dan ditensi terlebih dahulu, tensi normal, namun ternyata ada sedikit kandungan protein di dalam urine saya (akibatnya sampel urin saya harus dibawa ke lab untuk diperiksa lebih lanjut, katanya kalau sampai 3 hari tidak dikontak, artinya tidak ada masalah). Selanjutnya bidan mengecek posisi bayi dengan meraba dan menekan perut saya, katanya ternyata posisi kepala bayi sudah di bawah! Sangat senang mendengarnya. Detak jantung pun bagus, bayi sehat, alhamdulillah. Konsultasi dengan bidan kali ini cukup lama karena saya harus pindah rumah sakit karena sudah tidak tinggal di area utara London. Bidannya menjelaskan dengan sabar terkait proses pindahnya, ternyata cukup tinggal mengisi self-refer form lagi di rumah sakit baru yang dituju (sebaiknya sudah terdaftar di GP pada area tempat tinggal baru), di Chelsea & Westminster Hospital, dan tunggu jadwal kontrol kandungan dengan bidan di sana. Selama belum dapat jadwal dari Chelsea & Westminster Hospital, ternyata tidak perlu membatalkan pertemuan yang sudah dibuat rumah sakit yang lama, yaitu di The Whittington Hospital. Bidan mengingatkan untuk telepon rumah sakit yang baru apabila dalam 10 hari kerja jika belum mendapatkan jadwal. Selain itu, bidan juga mengatakan untuk mencari nomor telepon untuk kontak darurat (Maternity Triage Chelsea & Westminster Hospital), jikalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Katanya, apabila belum mendapatkan jadwal pertemuan dan ada kondisi darurat, bisa langsung datang ke rumah sakit terdekat saja.

31 Weeks: General Appointment by Midwife (The Whittington Hospital, 28 September 2017)
Diperbarui setelah selesai kontrol kandungan.

(Chelsea & Westminster, 11 October 2017)

34 Weeks: General Appointment by General Practicioner (11 October 2017)
Diperbarui setelah selesai kontrol kandungan.

36 Weeks: General Appointment by Midwife (25 October 2017)
Diperbarui setelah selesai kontrol kandungan.

38 Weeks: General Appointment by General Practicioner (8 November 2017)
Diperbarui setelah selesai kontrol kandungan.

40-41 Weeks: General Appointment by Midwife (22, 29 November 2017)
Hanya jika bayi belum lahir setelah masuk ke dalam usia kandungan 40 minggu, biasanya akan ditawarkan untuk diinduksi agar bayi tidak terlalu lama berada di kandungan karena kondisi rahim juga sudah tidak baik untuk bayi jika sudah lewat dari 41 minggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s